Warga Keluhkan Pemadaman Listrik Berulang, DPRD Kukar Desak Solusi Konkret
Anggota Komisi I DPRD
Kukar, Desman Minang Endianto. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Pemadaman listrik berulang dalam beberapa bulan terakhir dikeluhkan warga Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Salah seorang warga,
Andika Yuda, mengaku mengalami kerugian akibat kerusakan sejumlah barang
elektronik di rumahnya, mulai dari rice cooker dan lemari es hingga televisi.
Ia mengaku, kerusakan
barang elektronik di rumahnya terjadi di tengah pemadaman listrik yang disebut
kerap berlangsung tanpa pemberitahuan lebih awal.
Ia menduga gangguan
arus listrik saat pemadaman maupun ketika listrik kembali menyala berkaitan
dengan kerusakan perangkat elektronik tersebut. Namun, penyebab pastinya belum
dapat dipastikan.
“Rice cooker saya
sudah rusak dan akhirnya harus membeli yang baru dengan harga hampir Rp1 juta.
Sementara lemari es yang rusak sampai sekarang belum diperbaiki karena
keterbatasan biaya. Sekarang televisi di rumah juga mulai bergaris pada
layarnya,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews pada Sabtu (24/10/2026).
Selain kerusakan
barang elektronik, ia mempersoalkan minimnya pemberitahuan sebelum pemadaman
berlangsung.
Menurutnya, informasi
mengenai pemadaman justru disampaikan setelah listrik padam, disertai
keterangan tentang adanya perbaikan tanpa penjelasan terperinci mengenai
gangguan yang terjadi.
Ia meminta PLN lebih
terbuka dalam menyampaikan informasi kepada pelanggan, mulai dari lokasi
gangguan, penyebab pemadaman, hingga langkah penanganan yang dilakukan.
Menurutnya, pelanggan
berhak mengetahui kondisi yang menyebabkan pasokan listrik terputus.
“Seharusnya PLN
transparan. Gangguannya di mana, penyebabnya apa, dan solusinya seperti apa.
Kami sebagai konsumen sangat-sangat dirugikan kalau seperti ini. Kami tiap
bulan selalu membayar dan itu tidak pernah telat, tetapi kenapa pelayanannya
seperti ini,” tegasnya.
Ia juga
mempertanyakan bentuk tanggung jawab PLN apabila gangguan kelistrikan
menimbulkan kerugian bagi pelanggan.
Menurutnya, perlu ada
kejelasan mengenai mekanisme penanganan pengaduan maupun kemungkinan kompensasi
sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kalau kami tidak
bayar, meteran bisa dicabut. Sedangkan kalau terjadi seperti ini, konsekuensi
PLN apa? Kompensasi yang mereka berikan kepada kami seperti apa? Kan tidak
ada,” ucapnya.
Ia berharap PLN
segera mengevaluasi kondisi kelistrikan di Tenggarong agar pemadaman tidak
terus berulang dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal.
“Harapan kami, PLN
segera mencari solusi. Jangan seperti ini terus, karena masyarakat sudah banyak
dirugikan. Kami ini daerah penghasil batu bara, tetapi di sini malah mati
lampu,” tuturnya.
Keluhan tersebut
turut mendapat perhatian Anggota Komisi I DPRD Kukar, Desman Minang Endianto.
Ia menyayangkan
persoalan pelayanan listrik yang dinilai belum terselesaikan secara optimal,
sementara pemadaman masih kerap terjadi di Tenggarong dan sejumlah wilayah
Kukar.
“Kami tentu
menyayangkan karena hingga saat ini persoalan pelayanan listrik belum
terselesaikan secara optimal. Pemadaman listrik, baik secara bergilir maupun
tanpa jadwal yang jelas, masih sering terjadi di Tenggarong dan Kukar pada
umumnya,” ujarnya.
Menurutnya, PLN harus
segera menghadirkan solusi yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat.
Sebab, kata dia,
dampak pemadaman tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga
berpotensi menimbulkan kerugian akibat terganggunya penggunaan barang
elektronik.
Ia mengingatkan bahwa
tidak semua masyarakat memiliki generator set (genset) sebagai sumber listrik
cadangan.
Sementara itu, warga
yang memiliki genset harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan
bakar minyak (BBM).
“Jangan sampai
masyarakat terkesan hanya bisa menerima kondisi ini, sementara solusi yang
diberikan masih sebatas pemadaman bergilir. Persoalan ini sudah berlangsung
cukup lama dan harus segera diselesaikan,” tegasnya.
Ia juga meminta PLN
menyampaikan secara terbuka kendala yang menyebabkan pemadaman berulang.
Transparansi dinilai
penting agar masyarakat mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi, termasuk
langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi gangguan pasokan listrik.
“PLN juga perlu
menyampaikan secara terbuka dan transparan kendala-kendala yang selama ini
dihadapi, termasuk faktor yang menjadi penyebab pemadaman listrik. Dengan
begitu, masyarakat bisa mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi,” ucapnya.
Ia menilai, sebagai
salah satu daerah penyumbang sumber daya alam yang besar bagi pemerintah dan
negara, Kukar semestinya mendapatkan pelayanan kelistrikan yang memadai.
“Karena itu, sudah
seharusnya pelayanan yang diterima masyarakat juga sebanding dengan kontribusi
daerah tersebut,” kata dia.
Terkait kemungkinan
DPRD Kukar memanggil PLN untuk mengikuti rapat dengar pendapat (RDP), ia
menyatakan langkah tersebut dapat dipertimbangkan apabila persoalan pemadaman
terus berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas.
Menurutnya, PLN
seharusnya tidak perlu menunggu pemanggilan dari DPRD untuk mengevaluasi
pelayanan dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi pelanggan.
Meski demikian, DPRD membuka kemungkinan mengundang pihak PLN untuk membahas persoalan tersebut bersama-sama.
“Apabila persoalan
ini semakin serius dan berlarut-larut, kami akan menyuarakannya dan mendorong
agar pihak PLN, khususnya yang menangani wilayah Tenggarong, diundang atau
dipanggil untuk membahas persoalan tersebut dan mencari solusi bersama,”
pungkasnya. (Kriz)